Blog

PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI, Tuhan atau Dunia?

diterjemahkan oleh P.Ricard Selan, OFM

PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI
Pelajaran 7 — Tuhan atau Dunia?

Pelajaran:
Pada awal tahun 1205, sekitar setahun setelah Fransiskus dibebaskan dari penjara, ketika ia masih menanggung dampak psikologis dari pengalamannya, pemulihannya terbantu oleh kegembiraan yang baru ditemukan atas undangan yang diterimanya untuk kembali berperang. Kali ini, seorang panglima perang kaya bernama Walter dari Brienne mengumpulkan pasukan untuk menaklukkan wilayah-wilayah di Italia selatan, yang telah dirampas dari kepausan secara tidak sah. Karena pertempuran ini adalah perang salib bagi Bapa Suci sendiri, Fransiskus dan ayahnya melihat ini sebagai kesempatan ideal bagi Fransiskus untuk mengambil satu langkah besar untuk menjadi seorang ksatria dan, dengan demikian, meningkatkan status sosial seluruh keluarganya, dengan mendapatkan martabat militer itu.
Sebagai persiapan untuk pertempuran baru ini, ayah Fransiskus memberinya seekor kuda baru, baju besi yang bagus, dan pedang. Namun, ketika ia memulai perjalanannya, Fransiskus mengalami dua mimpi berturut-turut. Pertama, dia bermimpi bahwa dia dibawa ke sebuah aula besar yang penuh dengan baju besi dan pedang yang semuanya ditandai dengan salib. Ketika dia bertanya untuk apa semua itu, dia mendengar sebuah suara yang mengatakan bahwa semua itu adalah untuk dia dan para pengikutnya. Ketika terbangun, Fransiskus tidak dapat menafsirkan mimpinya, tetapi ia menduga bahwa itu berarti ia akan menjadi seorang ksatria yang hebat.
Dalam mimpi kedua, Fransiskus mendengar sebuah suara bertanya kepadanya, “Siapa yang dapat berbuat lebih banyak untukmu? Tuan atau hamba? Orang kaya atau orang miskin?” Fransiskus dengan cepat menjawab, “Tuan yang kaya!” Suara itu kemudian bertanya, “Lalu mengapa kamu meninggalkan Tuan demi seorang hamba dan Allah yang memiliki kekayaan tak terbatas demi seorang manusia yang miskin?” Ketika Fransiskus bertanya lebih lanjut kepada suara itu, ia diberitahu untuk kembali ke Assisi karena Tuhan memberinya sebuah misi besar yang bersifat spiritual. Saat terbangun, Fransiskus tahu apa yang harus dilakukannya. Dia berbalik dan mulai kembali ke Assisi untuk melihat lebih jauh bagaimana dia dapat melayani Tuhan yang mahatinggi dan memenuhi misi barunya.

Refleksi:
Fransiskus dihadapkan pada sebuah keputusan penting. Ia sangat menginginkan kemuliaan dan kehormatan, tetapi mimpi yang kedua ini sangat jelas. Allah memiliki sebuah misi rohani yang besar yang harus ia penuhi. Kebanyakan orang, ketika menerima misi seperti itu, akan sangat bergumul dengan pikiran untuk secara radikal meninggalkan semua yang mereka harapkan sebelumnya. Tetapi Fransiskus tidak ragu-ragu.
Tuhan menggunakan keinginannya untuk menjadi besar sebagai pendorong bagi Fransiskus untuk melakukan hal-hal besar bagi-Nya. Bagi Fransiskus, kebesaran adalah tujuannya, tetapi ia tidak terikat secara kaku pada gagasannya yang belum matang tentang kebesaran. Begitu Tuhan memberinya arah baru, dia dengan cepat meninggalkan semuanya untuk merangkul awal panggilan barunya.
Tuhan menginginkan kebesaran, kemuliaan, dan kehormatan yang sejati bagi kita masing-masing. Dan kita masing-masing menginginkan hal itu di dalam hati kita. Yang penting adalah kita memilih visi kebesaran yang berasal dari Allah di atas visi dunia. Kebesaran, kemuliaan, dan kehormatan yang ditawarkan oleh dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebesaran, kemuliaan, dan kehormatan dalam kehendak Allah. Fransiskus tampaknya memahami fakta ini ketika Tuhan berbicara kepadanya. Dia segera membuat pilihan yang tepat dan radikal.
Renungkanlah cara-cara Allah memanggil Anda untuk menjadi besar. Bagaimana Allah ingin Anda dihormati dan berbagi dalam kemuliaan-Nya untuk selama-lamanya? Jangan ragu untuk memilih kehendak-Nya daripada janji-janji dunia yang palsu dan menggoda. Ikuti jejak Santo Fransiskus, dan Anda akan selalu bersyukur karena telah melakukannya.

Doa:
Santo Fransiskus, engkau dihadapkan pada sebuah keputusan. Haruskah engkau memilih kemuliaan dunia atau kemuliaan yang ada dalam pikiran Allah yang tak terbatas untukmu? Engkau memilih kehendak Allah, meskipun engkau tidak tahu kemana arahnya. Berdoalah untukku, agar aku juga dapat memilih Allah di atas segalanya. Semoga aku dapat mendengar suara lembut-Nya memanggil dan menuntunku, dan semoga aku dapat menanggapi dengan kemurahan hati dan kepercayaan yang besar. Santo Fransiskus, doakanlah aku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.

Sumber: JP Thomas, Lessons from Saint Francis of Assisi: The Wisdom of God’s Beloved Servant dalam https://mycatholic.life/books/lessons-from-saint-francis-of-assisi/

Kirim Komentar

5 + twelve =