Blog

PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI, “Kemuliaan dan Kehormatan”

Diterjemahkan oleh P.Ricard S,OFM

PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI
Pelajaran Keempat – “Kemuliaan dan Kehormatan”

Pelajaran : Pada saat Fransiskus dilahirkan, kota Asisi berada di bawah pengawasan Kekaisaran Romawi Suci dan diperintah oleh kaum bangsawan. Para bangsawan adalah pemilik tanah, yang sampai saat itu merupakan indikator kekayaan, kekuasaan, dan kelas sosial tertinggi. Namun, keluarga Fransiskus, seperti juga keluarga-keluarga lain di Asisi, adalah para pedagang. Ayah Fransiskus menjual kain untuk mendapatkan keuntungan dan mengukur kekayaannya bukan dengan tanah, tetapi dengan koin. Bentuk kekayaan ini merupakan hal baru dan merupakan penyebab perpecahan antara kelas pedagang dan bangsawan pemilik tanah.
Pada tahun 1203 atau 1204, ketika Fransiskus berusia remaja, ia bergabung dengan sekelompok warga yang menyerbu kastil besar yang menghadap ke kota Assisi, mengusir kaum bangsawan dari Assisi dan pergi ke kota tetangga, Perugia, sebagai orang buangan. Perugia berada di bawah kendali kepausan, sedangkan Assisi berada di bawah kaisar. Namun, penduduk Assisi menginginkan kemerdekaan dari keduanya.
Ketika Fransiskus berusia sekitar 20 tahun, perang saudara telah berkecamuk di antara dua kota yang saling bersaing. Dalam salah satu pertempuran, Fransiskus ikut bertempur. Ayahnya memberinya seekor kuda dan memakaikannya baju besi yang bagus, dan mengirimnya ke medan perang. Pertempuran itu terjadi di sebidang tanah kecil yang berbatasan dengan dua kota, tetapi Fransiskus memiliki motivasi yang sifatnya pribadi dalam pertempuran itu. Dia memimpikan “kemuliaan dan kehormatan” yang didapat dengan menjadi seorang ksatria yang hebat. Fransiskus dan ayahnya tahu bahwa jika Fransiskus bisa menang dalam pertempuran ini, dia mungkin pada akhirnya bisa bergabung dengan pertempuran lain yang lebih penting dan mendapatkan kemuliaan sebagai ksatria. Jika Fransiskus menjadi seorang ksatria, status sosial seluruh keluarganya akan meningkat, dan mereka semua akan menikmati kehormatan yang lebih besar dan pengakuan masyarakat, yang merupakan sesuatu yang sangat diinginkan olehnya dan ayahnya. Meskipun keinginan Fransiskus lebih untuk dirinya sendiri, keinginan ayahnya adalah untuk mendapatkan status yang lebih tinggi bagi seluruh keluarganya.
Refleksi: Seringkali, kita semua memimpikan “kemuliaan dan kehormatan”. Kita rindu untuk mencapai prestasi kepahlawanan dan menerima pengakuan dari orang lain. Status sosial, gengsi, kekayaan, dan kehormatan sangat menggoda. Pada dirinya sendiri tidak ada yang salah dengan status, gengsi, kekayaan, dan kehormatan. Tetapi ketika semua itu menjadi fokus kita dan kita membiarkan diri kita tergoda oleh keinginan-keinginan duniawi ini, kita tidak akan pernah bisa mencapai kehormatan dan kemuliaan sejati yang Tuhan inginkan bagi kita.
Kehormatan sejati ditemukan dalam kesucian, kekudusan, dan persatuan dengan kehendak Allah. Kehormatan sejati ditemukan dalam hidup berkorban, bersatu dengan, dan meneladani Yesus sendiri. “Status” terbesar yang dapat kita raih adalah menjadi orang yang mengorbankan segalanya demi kasih kepada Tuhan dan sesama. Ketika kita mencari kehormatan yang mementingkan diri sendiri, kita hidup seperti orang bodoh, mengandalkan pendapat orang lain sebagai ukuran nilai kita.
Renungkanlah hari ini, seberapa besar kepedulianmu terhadap pendapat dunia. Apakah Anda mengizinkan kemuliaan, kehormatan, kekayaan, dan status duniawi menentukan nilai dan martabat Anda? Atau apakah Anda dengan rendah hati berusaha untuk merendahkan diri Anda, menyerahkan hidup Anda demi kasih kepada orang lain, hanya mencari kehendak Allah yang murni dan kudus untuk hidup Anda, apa pun itu? Izinkanlah keegoisan Fransiskus dari Asisi yang keliru dan masih muda itu mencegah Anda melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya.
Santo Fransiskus, di awal hidupmu engkau menginginkan kemuliaan dan kehormatan duniawi. Engkau berusaha untuk melakukan hal-hal besar agar diakui oleh masyarakat. Tetapi Tuhan memiliki rencana untukmu di luar bayanganmu. Dia ingin menganugerahkan kepadamu kebesaran sejati yang mengalir dari kehidupan yang penuh pengorbanan, kerendahan hati dan kemiskinan. Berdoalah untukku, agar aku hanya mencari hal-hal yang membawa kemuliaan dan kehormatan Allah dan kehendak-Nya yang sempurna. Santo Fransiskus, doakanlah aku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Sumber: J. P. Thomas, Lessons from St. Francis Assisi

Kirim Komentar

eleven + 7 =