Diterjemahkan oleh P.Ricard S, OFM
PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI
Pelajaran Kelima-Sukacita di Dalam Penjara
Pelajaran: Pertempuran yang dilakukan Fransiskus melawan Perugia tidak berjalan sesuai harapan. Banyak prajurit dari Assisi tewas di medan perang. Tetapi Fransiskus, yang mengenakan baju besi yang bagus dan menunggang kuda, ditawan dengan anggapan bahwa orang-orang Perugia akan dapat memperoleh tebusan yang bagus untuk nyawanya. Dengan demikian, Fransiskus dan para ksatria lain dari Asisi dipenjara selama satu tahun.
Selama di penjara, para ksatria itu menjadi uring-uringan, marah, dan menderita. Ada seorang ksatria yang sangat tak tertahankan dan dijauhi oleh semua ksatria lainnya. Namun, meskipun Fransiskus dipukuli, diejek, mengalami malam-malam dingin yang tak terhitung jumlahnya, dan jatuh bangun karena sakit parah, ia menaruh perhatian khusus pada ksatria yang tidak bahagia ini dan tanpa henti berusaha menjalin persahabatan dengannya.
Selama setahun dipenjara, Fransiskus mengejutkan, dan bahkan pada akhirnya membuat rekan-rekannya sesama tahanan terkesan dengan kepribadiannya yang periang dan kegembiraannya dalam menghadapi penderitaan. Watak alami Fransiskus yang selalu gembira tidak hilang oleh belenggu dan penderitaan. Dia bernyanyi, bercanda, dan terus berusaha untuk meringankan suasana hati. Meskipun Fransiskus belum memiliki iman yang mendalam kepada Tuhan, ia memiliki karisma alami dan pandangan positif terhadap kehidupan. Setelah satu tahun dipenjara, Asisi bersumpah setia kepada paus, dan ayah Fransiskus membayar uang tebusan yang diperlukan untuk membebaskannya.
Refleksi: Rahmat adalah anugerah dari Allah untuk membantu kita menanggung penderitaan dalam hidup. Tetapi bahkan sebelum rahmat diberikan, Allah telah memberi kita karunia lain: karunia kodrat kemanusiaan kita. Kodrat manusiawi kita yang telah jatuh dalam dosa dan rusak ini masih tetap baik, dan ada banyak karunia alamiah yang dapat kita gunakan untuk bertahan dalam apa pun yang menimpa kita dalam hidup ini.
Fransiskus secara alamiah periang, dan ia membiarkan karunia alamiahnya ini menjadi sumber sukacita selama tahun-tahun penderitaannya yang berat. Dia mengangkat semangat orang lain, meskipun pada awalnya mereka mengejek dan mencemoohnya. Dia tidak menyerah dalam rohnya, tetapi tetap memenangkan semuanya.
Renungkanlah karunia-karunia alamiah yang telah Allah berikan kepada Anda. Mungkin Anda tidak secara alamiah periang seperti Fransiskus, tetapi Anda memiliki karunia-karunia alamiah. Dan meskipun karunia-karunia alamiah tidak dapat dibandingkan dengan karunia yang lebih besar yaitu anugerah ilahi, karunia-karunia alamiah kita tetaplah berasal dari Allah. Renungkanlah cara-cara Anda dapat menggunakan karunia-karunia tersebut dalam hidup, terutama di saat-saat yang lebih sulit yang Anda alami. Dan jika Anda mengizinkan kasih karunia untuk membangun sifat alamiah manusiawi Anda, kekuatan Anda akan bertambah tanpa bisa dipercaya.
Santo Fransiskus, karunia-karunia alamiahmu sangat berharga bagimu dan para prajurit lainnya selama tahun yang panjang dalam penjara dan penderitaan. Berdoalah untukku, agar aku dapat membiarkan karunia-karunia yang telah diberikan kepadaku menjadi dasar bagi cinta kasih kepada orang lain dan pemenuhan kehendak Allah yang kudus. Santo Fransiskus, doakanlah aku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
Sumber: J. P. Thomas, Lessons from St. Francis Assisi

Kirim Komentar