Blog

PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI, Merangkul Orang Kusta

diterjemahkan oleh P.Ricard Selan, OFM

PELAJARAN HIDUP DARI ST. FRANSISKUS ASSISI
Pelajaran 9 — Merangkul Orang Kusta

Pelajaran:
Kasih yang mekar bertumbuh dalam diri Fransiskus kepada Kristus yang tersalib bukanlah semata-mata sikap batiniah. Ia mewujudkannya secara nyata melalui tindakan. Tidak ada contoh yang lebih kuat daripada cintanya kepada para penderita kusta. Dalam diri mereka, Fransiskus melihat citra Kristus yang hadir secara nyata—Kristus yang tubuh-Nya rusak di kayu salib, yang dihina, dicemooh, dan diremehkan. Dengan merangkul para penderita kusta, Fransiskus sesungguhnya sedang merangkul Kristus sendiri, khususnya Kristus yang tersalib.
Dalam doa, Fransiskus suatu hari mendengar suara Tuhan yang memintanya untuk melepaskan semua yang dahulu ia sukai dan justru mencintai hal-hal yang sebelumnya ia jauhi. Maka dari itu, ia pun belajar mencintai Salib. Dan salah satu cara terbaik untuk mengasihi Salib adalah dengan mencintai mereka yang menampakkan Salib itu secara nyata—para penderita kusta.
Tak lama kemudian, Fransiskus bertemu dengan seorang penderita kusta yang meminta sedekah. Mengalahkan rasa jijiknya yang manusiawi, ia segera turun dari kudanya, mencium tangan si penderita, dan memberinya sejumlah uang yang banyak. Si penderita terkejut namun penuh sukacita, membalasnya dengan ciuman damai. Peristiwa itu sangat menyentuh hati Fransiskus—mungkin lebih dalam daripada yang dirasakan oleh si penderita kusta sendiri.
Beberapa hari setelahnya, Fransiskus mengumpulkan banyak uang dan mengunjungi sebuah rumah sakit kusta. Ia mengumpulkan para pasien, mencium tangan mereka satu per satu, dan membagikan uang sebagai tanda kasih. Dalam tindakan itu, ia menemukan sukacita sejati dalam sesuatu yang sebelumnya amat ia hindari.
Sejak saat itu, Fransiskus secara rutin melayani para penderita kusta, bahkan tinggal bersama mereka, menunjukkan belas kasih, dan dengan tulus memberikan segala miliknya. Kasihnya kepada mereka—dan kepada kaum miskin secara umum—menjadi pusat perutusannya. Ia benar-benar meninggalkan segalanya demi kasih kepada Kristus.

Refleksi:
Apakah engkau mencintai Salib Kristus? Secara emosional, mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan bahwa kita mencintai Salib. Kita berdoa di depan salib, berbicara tentang pengorbanan sempurna Yesus, dan menghormati wafat serta kebangkitan-Nya. Namun, apakah kita mencintai Salib dari kejauhan saja? Atau sungguh-sungguh memeluk salib-salib hidup kita sendiri dengan sepenuh hati dan sukacita?
Memeluk Salib berarti melihat penderitaan sebagai anugerah dan sukacita. Hal ini hanya mungkin terjadi berkat rahmat Tuhan dan pandangan iman. Saat Salib kita peluk, rasa sakit tidak terhindarkan, dan manusia lama kita akan memberontak. Tetapi iman menuntun kita melihat penderitaan sebagai kesempatan yang membahagiakan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Terutama penderitaan yang timbul dari ketaatan pada kehendak Allah—itulah yang paling mengubah hati kita.
Hari ini, renungkanlah Salib Kristus. Renungkan pula bagaimana Tuhan memanggilmu untuk merangkul Salib dalam hidupmu. Temukan sukacita dalam penderitaan yang sebelumnya menakutkan bagimu. Belajarlah merangkul dengan sukacita segala hal yang dulu engkau tolak, dan biarkan penderitaan itu membentuk hatimu menjadi semakin seperti hati Kristus.

Doa:
Santo Fransiskus, engkau menemukan sukacita saat merangkul para penderita kusta demi kasih kepada Kristus. Engkau melihat Yesus yang tersalib dalam diri mereka dan belajar mencintai Tuhan di tengah penderitaan. Doakanlah aku, agar aku juga mampu menemukan Kristus dalam penderitaan hidupku dan merangkul-Nya dengan kasih. Semoga aku dapat meneladanmu seperti engkau telah meneladan Yesus, dan mencintai Allah dalam setiap salib yang aku pikul. Santo Fransiskus, doakanlah aku. Yesus, aku percaya kepada-Mu.

Sumber: JP Thomas, Lessons from Saint Francis of Assisi: The Wisdom of God’s Beloved Servant dalam https://mycatholic.life/books/lessons-from-saint-francis-of-assisi/

Kirim Komentar

3 × three =